Tampilkan postingan dengan label Pinto Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pinto Aceh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Juni 2014

Kisah di Balik Sehelai Kain

Ruangan berdinding putih lusuh itu sangat sederhana. Namun, di ruangan yang menyimpan delapan alat tenun tradisional dari kayu dan bambu itulah, wanita-wanita Desa Siem melestarikan tenun khas Aceh yang terkenal indah. Menurut Dahlia, salah satu penenun, Desa Siem, Kecamatan Darussalam, –yang dapat dicapai dalam 30 menit dengan bermobil dari kota Banda Aceh--menjadi satu-satunya desa yang masih bertahan menghasilkan kain tenun Aceh.

Ketika femina berkunjung, tampak beberapa wanita menekuni alat tenun masing-masing. Mereka menenun helai demi helai dari sekitar 2.000 benang. Cerita tentang songket Desa Siem diawali oleh (alm) Maryamun (Nyak Mu), seorang wanita yang mendedikasikan sepanjang hidupnya untuk merawat warisan leluhurnya.

Nyak Mu, yang sudah meninggal 3 tahun lalu, mendirikan usaha tenun songket Aceh sejak tahun 1973. Ia mengajari wanita-wanita yang datang dari Aceh Timur, Lamno, Aceh Besar, serta Banda Aceh, menenun. Setelah mahir, mereka membuka usaha sendiri di desa asalnya.




Selasa, 27 Mei 2014

Busana Muslim Fitri Aulia Terpikat Budaya Aceh

Jakarta - Dalam brand Fitri Aulia, sang desainer Fitri menuangkan kekayaan nusantara melalui songket Aceh di perhelatan ajang 'Indonesian Islamic Fashion Fair' (IIFF) 2013 belum lama ini di Jakarta Covention Center (JCC) Senayan Jakarta. 

Di mana, sang desainer satu ini - yang juga keturunan Aceh menyadari betul bahwa Aceh yang dijuluki kota Serambi Mekah identik dengan nilai-nilai Islam. Hal ini pun coba dibuktikan Fitri dalam mengeksplorasi karya-karyanya yang terdapat ragam makna motif khas dari songket atau batik Aceh itu sendiri.

"Dari bahan songket tadi tercipta busana muslim bermotif Pinto Aceh atau Pucuk Rebung," ujar Fitri.